Mondok

Sebenarnya dari awal kami (saya dan abahshofi) memang sudah berniat untuk memasukkan anak-anak ke pondok pesantren begitu mereka tamat SD. Kami juga sudah sering “sounding” ke mereka supaya mereka siap dan bersedia menerima rencana kami, demi kebaikan mereka. Tapi jodoh mereka dengan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang ini (memang) sudah ditakdirkan.

Jadi gini ceritanya…

Juni 2017, ketika Alif dan Iffah sibuk persiapan SAT (ujian akhir buat kelas 6 SD di Inggris), saya mulai berpikir soal lanjut sekolah saat balik ke Indonesia. Sudah telat memang. Tadinya kami berencana mereka akan ‘free‘ dulu hingga tahun depan. Rencana kembali ke Indonesia bulan Agustus, waktu yang ga pas untuk daftar sekolah. Jika mereka ingin mengulang kelas 6 (bergabung kembali dengan teman-teman yang dulu), mereka juga ga bisa. Saya sudah konfirm ke sekolah yang dulu, ternyata untuk ikut UN, si kembar harus punya raport mulai kelas 4, dan harus sudah masuk maksimal bulan September karena nama-nama siswa kelas 6 yang akan ikut UN sudah akan didaftarkan ke Dinas Pendidikan. Jelas si kembar ga punya nilai rapor sejak kelas 4. Ditambah lagi, kalaupun seandainya bisa ikut UN, kasihan mereka harus ngebut belajar pelajaran dari kelas 4 sampai kelas 6, belum lagi mereka butuh waktu untuk penyesuaian dulu. Saya sendiri ga yakin mereka bisa maksimal di UN. Jika pun dipaksakan, bisa jadi nilainya tidak akan terlalu bagus untuk bisa mendaftar ke sekolah lanjutan yang diinginkan dan ini akan membuat mereka down.

Jadi rencana awalnya adalah, nganggur dulu setahun, sembari ikut kursus atau bimbingan belajar untuk persiapan daftar pondok (biasanya di sekitaran bulan Desember-Januari). Tau sendiri, tes masuk pondok, apalagi kalo pondoknya favorit, tesnya juga makin susah.

Tapi setelah kami timbang-timbang, mengkhayal seandainya mereka jadi ‘nganggur’ setahun itu (ga setahun juga sih). Harus nyari tempat kursusnya, biayanya juga, dst… Akhirnya awal Juni itu saya dan abahshofi mulai searching di internet pondok pesantren puteri di jawa dan sumatera. Dan ternyata sebagian besarnya sudah tutup pendaftaran 😀

Sampai kami menemukan Diniyyah Puteri. Lokasinya di Padang Panjang, Sumatera Barat. Jauh sih dari Jakarta, tapi dekat dari nenek-datuknya, om-tante-nya. Biar sekalian ada alasan saya sering-sering ‘pulang kampuang‘ juga hehehe :D. Kebetulan pendaftaran gelombang terakhir masih buka hingga beberapa hari kedepan (ketika itu). Saya pun minta tolong adik saya untuk menanyakan ke nomor kontak yang ada di informasi pendaftaran mengenai kondisi si kembar (masih di Inggris, tidak punya rapor, nilai UN dan ijazah). Responnya juga cepat dan sangat welcome.

Website perguruan ini sangat lengkap dan informatif. Silakan lihat sendiri disini: http://diniyyahputeri.org/

Singkat cerita, kami pun mendaftar dan melengkapi semua syarat pendaftaran via email (dokumen semua baru softcopy). Tes masuk ‘hanya’ ada dua, yaitu tes shalat dan mengaji. Tak ada tes matematika, IPA, IPS, PKn, dll. Panitia minta kami merekam anak-anak praktik shalat dan mengaji (ada ayat dan surat tertentu yang dibaca) untuk dikirimkan -juga- via email. Terakhir, ada sesi wawancara. Ketika calon santri lain wawancara di lokasi, kami melakukan wawancara via Skype, pukul 4 pagi waktu Inggris ketika itu, setelah kami menyelesaikan makan sahur dan shalat subuh. Ohya, ada psikotes juga yang harus diisi oleh si kembar, berisi 92 pertanyaan yang harus dijawab tertulis yang jawabannya difoto dan dikirim via email. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Pekan berikutnya, pengumuman keluar di website sekolah dan alhamdulillah nama mereka berdua ada di daftar calon santri.

Sekarang sudah satu semester kaka Iffah dan Alif merasakan kehidupan santri. Kami tau ini berat. Tapi perjuangan ini harus dilalui demi masa depan mereka. Semoga kelak mereka menjadi mujahidah shalihah yang tangguh, pejuang akhir zaman yang cinta Qur’an dan ilmu pengetahuan…

Aaamiiiin ya Rabbal’alamiiin…

 

-Ummu Shofi-

4 Januari 2018

Advertisements

8 thoughts on “Mondok

Add yours

  1. mbaaakkkk…..diniyah putri padang panjang juga salah satu top list pesantren buat anakku nanti (bapaknya sih yg ngebet disini). dikampung halaman sendiri,deket kakek nenek (dari pihakku) dan keluarga ayahnya. minta doanya semoga anakku berjodoh dengan diniyah puteri ini ya mbak.

    Like

      1. Visionary mom 🙂

        Sebenernya kalo si abah lebih pengen anak-anak masuk Gontor mba (ngefans sama novel Negeri 5 Menara) hehehe…
        Sayangnya Gontor dah tutup pendaftaran ketika itu, jadilah ke Diniyyah Puteri. Ga tau nih, adiknya si kembar, Rumaisha, mungkin mau di ‘motivasi’ dulu sama abinya untuk masuk ke Gontor aja hehehe 😀

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: