Ngapain sih kuliah di luar negeri?

Kenapa ‘harus’ ke luar negeri? Emang ga bisa dapet ilmu di dalam negeri aja?

Pertanyaan ini sering kita dengar ya? Terkesan sinis tapi ga salah juga sih. Pertanyaan menggelitik, tapi faktanya ranking universitas-universitas terbaik di Indonesia masih di bawah ratusan universitas terbaik negara lain. Tapi maaf, bukan ini yang ingin saya bahas kali ini.

Kenapa ‘harus’ ke luar negeri? Apa aja nilai tambah lulusan luar negeri dibanding lulusan dalam negeri?

Bentar… bentar… Saya ga bilang lulusan luar lebih baik dari dalam negeri lho ya, mohon jangan salah tafsir. Generalisasi adalah hal yang berbahaya. Mohon yang lulusan dalam negeri jangan tersinggung yaaa… Menuntut ilmu ga harus di luar negeri (makanya kata “harus”-nya saya kasih tanda petik).

So, beberapa nilai tambah yang bisa didapat jika kuliah di luar negeri, menurut saya, antara lain:

  1. Bahasa.

Pastinya… Kita mau ga mau harus belajar dan lama kelamaan akan terbiasa menggunakan bahasa asing tersebut. Lebih bagus lagi jika kita memilih studi di negara yang non-English, misalnya Perancis, Jepang, Jerman, Rusia, dst. Sebab bahasa Inggris akan jadi bahasa universal di kampus, sedangkan untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal, kita juga harus menggunakan bahasa setempat. Jadi sepulang dari studi, minimal ada dua bahasa asing tambahan yang kita kuasai. Selain bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Total kamu bisa 4 bahasa! Keren kaaan…

2. Fasilitas kampus terkemuka

Perpus kampus saya buka 24 jam sehari 362 hari dalam setahun, mereka hanya tutup ketika natalan dan tahun baru. Selain tersedia kapan saja dan tentunya buku yang lengkap, perpus juga menyediakan komputer dan laptop yang bisa digunakan -asal available (saya hampir tidak pernah tidak kebagian komputer), dan tempat bejajar yang tenang dan nyaman. Kita bisa memilih mau yang tanpa suara, sedikit suara, atau ribut (biasanya untuk kerja kelompok), bisa booking ruangan sendiri maupun ruangan terbuka yang bareng-bareng. Yang paling bikin saya takjub adalah akses ke jurnal, thesis dan tulisan-tulisan lainnya termasuk ke situs-situs yang susah diakses jika menggunakan data personal. Selama dikampus saya bisa dengan mudah mengakses situs UN, IMF, OECD, dll. Juga dengan mudah mengunduh tulisan-tulisan untuk bahan referensi.

Selain perpus, fasilitas lain juga keren abis. Ruangan kelas dengan semua perlengkapan, kelas bahasa, pelatihan writing skill dan statistik gratis, layanan konsultasi IT, dan banyak lagi yang lainnya. Di aplikasi kampus juga tersedia semua informasi yang dibutuhkan, mulai dari jadwal kuliah, bahan bacaan, materi yang akan dibahas, pokoknya semua yang dibutuhkan, baik akademis maupun non-akademis.

2. Attitude

Dengan studi ke luar negeri, selain mempelajari ilmu akademik, kita juga akan belajar bagaimana attitude atau kebiasaan baik dari penduduk setempat mengantarkan mereka menjadi negara maju. Nilai-nilai disiplin, menghargai waktu, kebersihan, taat aturan, antri, dan seterusnya, akan terasa berbeda ketika kita mendapatkan dan merasakan nilai-nilai itu dengan berinteraksi langsung dengan penduduk sana ketimbang membacanya dari buku saja.

Saya sendiri merasakan indahnya kota York yang bersih dan tertib. Bukannya tidak ada sampah sama sekali, tapi sangat minim padahal tak ada pasukan kuning. Penduduknya juga ramah dan tepat waktu. Janjian meeting dengan supervisor tidak boleh telat. Bahkan janjian dengan gurunya anak-anak juga dijatah hanya 10 menit. Jadi kalo telat 5 menit ya berarti jatah ketemu guru tinggal sisa 5 menit sebab ortu murid lainnya sudah menunggu giliran di luar ruangan. Ngantri juga kebiasaan orang British yang saya acungi jempol, mereka sangat tertib. Memotong antrian bagi mereka sangat ‘rude’. Di jalan pun terasa sekali rapi dan taat aturannya mereka, meski tak ada pak polantas yang sedang berjaga.

3. Networking

Kuliah di luar negeri berarti punya banyak teman dari berbagai negara. Seperti saya kemarin, teman satu kelas tidak hanya berasal dari Inggris dan eropa sekitarnya, tapi juga berteman baik dengan mahasiswa dari Korea, Turki, Columbia, Jepang, Mexico, dll. Selain teman satu program, kita juga membangun jaringan dengan dosen, staf kampus, termasuk para pembicara atau narasumber yang diundang di acara-acara kampus. Selain di kampus sendiri, ada banyak kesempatan juga untuk ikut seminar, konferensi, dan event lainnya di kampus lain. Nah, disitu juga kita bisa kenalan dan bangun networking.

Tak hanya dengan mahasiswa negara lain, kita juga akan bergabung dengan komunitas mahasiswa di luar negeri, misalnya PPI (perhimpunan pelajar Indonesia). Kita akan terhubung dengan mahasiswa tak hanya di negara tempat kita belajar tapi juga mahasiswa luar biasa di negara lainnya.

Makanya ketika disana, kita harus manfaatkan jaringan dengan semua orang dengan cara aktif ikut organisasi dan sering jalan-jalan.

4. Membuka wawasan

Selain ilmu yang didapat di kampus, kita juga akan tinggal di negeri orang. Paling ngga, kita pasti akan mengamati bagaimana situasi perpolitikan disana misalnya, atau situasi ekonomi, mengamati layanan kesehatan, pendidikan, dan keamanan disana, dan sebagainya. Brexit misalnya, saya beruntung bisa berada di Inggris ketika pemilu digelar dan keputusan diambil. Ada pengalaman yang tidak bisa didapat di kampus terkait ini. Saya hanya jadi rajin baca berita dan mengamati bagaimana reaksi penduduk lokal.

IMG_20151205_133236

Di York juga saya ngerasain gimana rasanya jadi muslim minoritas. Ga hanya itu, saya juga ngalamin shalat dengan teman yang berbeda mazhab yang cara shalatnya berbeda. Alhamdulillah, saya juga ikut pengajian lokal. Luar biasa rasanya satu jamaah dengan muslimah dari Pakistan, Bangladesh, Mesir, Malaysia, dll. Ternyata ga cuman di Indonesia dimana ibu-ibu majelis ta’lim sibuk dengan makanan, pengajian ‘internasional’ di York juga hehehe…

Dulu rasanya ngelihat orang bule itu kayaknya gimanaaa gitu. Di York ketemu supir bus bule, pengemis bule, tukang ledeng juga bule, hehehe… Dulu juga saya suka ‘takut’ sama orang berkulit hitam (negro), tapi di kelas saya ada teman mahasiswa kulit hitam yang rapi, harum dan cerdas sekali. Berinteraksi dengan mereka yang kulit hitam, putih, merah, yang tinggi, pendek, yang rambut blonde, brunette, atau hitam, lurus keriting atau gimbal, mata sipit atau belo, hidung mancung atau pesek, membuat saya benar-benar merasa kecil sekaligus beruntung. Sekarang cara saya memandang manusia menjadi berbeda. Saya percaya setiap manusia pada dasarnya baik dan pasti ada kebaikan dalam dirinya.

Saya yakin masih banyak nilai tambah lain yang bisa kita dapatkan kalo kuliah di luar negeri. Ada yang bisa nambahin?

Jakarta, 29 Agustus 2017

Advertisements

6 thoughts on “Ngapain sih kuliah di luar negeri?

  1. nambahin ya, bisa jalan-jalan. hehehe…
    pingin banget suatu hari nanti bisa kuliah ke LN. dari dulu udah nyoba apply, dari suami masih di LN. tapi belum rezeki kali ya. apalagi sekarang aku kerja di instansi pemerintah yang lumayan ribet birokrasinya dibanding dengan intansi lain

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s