UN-nya SD di Inggris, pengalaman si kembar

Pekan ini seluruh siswa kelas 6 di Inggris sedang mengikuti ujian akhir nasional (SATs). Sudah dari beberapa bulan yang lalu mereka dijejali dengan latihan soal, baik di sekolah dan di rumah (kalo libur). Tapi si kembar keknya asik-asik aja ya, ga panik atau ngeluh macem-macem pas di rumah (apa emaknya yang ga ngeh yak?). Paling-paling pulang sekolah selalu mengais-ngais makanan di kulkas atau di lemari nyari yang bisa dikunyah, kelaparan kek udah 3 hari ga makan hehehe… Sesekali cerita kalo mereka tadi dapet nilai sekian pas tes matematika atau dapet sekian pas tes spelling. Ya komen standar maknya, “Alhamdulillaaah…”. Kadang nanya juga temen-temen yang lain dapet berapa (sebagai pembanding aja sih). Kalo nilai mereka jelek biasanya sih ga lapor hehehe…

Terakhir ketemu guru mereka (semacam parent-teacher meeting) yang berkisar hanya 10 – 15 menit itu saya hanya diberi tahu kalau si kembar dalam kondisi siap untuk menempuh ujian. Untuk matematika mereka termasuk yang bagus lah, hanya saja untuk bahasa Inggris yang masih perlu banyak latihan lagi. Saya udah (dan selalu) nawarin bantuan ke Bu Guru, apa yang kira-kira bisa saya bantu di rumah agar si kembar bisa lebih baik nilainya, tapi (lagi-lagi) mereka bilang mereka baik-baik saja, ga perlu apa-apa. Saya juga minta contoh soal supaya saya bisa ngajarin anak-anak tapi bu guru bilang ga perlu. Intinya, semua oke koq. No need to worry

Untungnya pas libur Easter (paskah) lalu, mereka bawa latihan soal untuk dikerjain di rumah. Nah, disitu saya baru tahu gimana model soal ujian di sini. Ga seperti orang Indonesia yang seneng multiple choice (pilihan ganda), orang sini senang mengisi titik-titik. Meski ada juga beberapa soal yang pilihan ganda, tapi ga banyak. Baru disitu saya akhirnya bisa nerangin ke anak-anak soal tenses (kalo disini namanya lain keknya, anak-anak ga tau apa itu tenses hihihi), penggunaan verb 1-2-3 (ini juga mereka ga ngerti kenapa ada 3 jenis verb meski mereka bilang di sekolah juga diajarin), clause, adverb, active-passive voice, dst. Sebagian besar sebenernya mereka udah paham sih, cuman mungkin ga ngerti maksudnya aja. Saya hanya berusaha menerangkan sebisa saya, sepemahaman saya, syukur-syukur mereka paham lah hehehe…

Sepekan sebelum hari ujian, si kembar disuruh bawa peralatan PE (alias olahraga) setiap hari. Tak seperti biasanya yang olahraga 2 kali sepekan, menjelang ujian ini malah tiap hari mereka ‘main’ dan banyak melakukan aktivitas fisik. Menurut Iffah dan Alif, biar relax kata gurunya. Pun di pekan ketika tes berlangsung, yaitu pekan ini, tiap hari mereka tetap bawa baju dan sepatu olah raga.

Selama pekan ujian, anak-anak kelas 6 dianjurkan sudah sampai di sekolah pukul 8.15. Bukan untuk latihan soal 😀 tapi untuk sarapan bersama. Ternyata ini dilakukan di semua sekolah di UK. Selain biar relax, sekolah juga memastikan anak-anak ga kelaparan ketika ujian (hehehe…). Kalo sudah selesai sarapan, mereka boleh main bola sebentar di lapangan (misalnya) sebelum masuk lagi ke kelas pukul 8.50. Beda banget ya sama saya dulu. Perasaan pas ujian itu malah kemana-mana pegang buku catatan atau melototin kertas latihan soal, pun di menit-menit terakhir masih ngafalin apa yang bisa dihafal. Suasana juga tegang banget. Kalo ngeliat Iffah dan Alif sih keknya mereka biasa-biasa aja 😀 hahaha…

Ujian dilakukan 4 hari, dari hari senin-kamis, lebih kurang 2-3 jam di pagi hari. Yang diuji adalah matematika (arithmatic dan reasoning – semacam soal cerita gitu) dan bahasa Inggris (reading dan SPAG – spelling, punctuation and grammar) saja. Sejarah, IPA, IPS, dll, ga diuji. Selebihnya main-main. Seringnya mereka olahraga atau main sesuatu di lapangan, atau beraktivitas di dalam ruangan seperti main game, bikin kue, dll. Pekan ujian malah banyak melakukan kegiatan yang seru-seru, bukannya disuruh banyak belajar.

IMG_20170121_093433_1Ohya, sebagai info tambahan, tidak ada penilaian individual bagi siswa SD. Yang di-assess adalah guru dan sekolah. Mereka mulai mendapat nilai individu ketika masuk secondary school. Saya juga masih belum dapat info jelas apakah nanti di ijazah SD mereka ada angka atau penilaian seperti nilai UN di Indonesia. It doesn’t really matter anyway. Yang penting anak-anak enjoy sekolahnya. Lagian Iffah dan Alif juga udah dapet bangku di salah satu secondary school di sini sebenernya hehehe…
Beberapa bulan yang lalu siswa kelas 6 wajib daftar ke SMP via website Pemda (tak peduli berapapun nilai SATs mereka nantinya). Meski saya udah bilang ke gurunya kalo si kembar ga bakal nerusin sekolah di sini tapi tetap disuruh isi form itu. Setelah mengisi, saya juga dapat email dari Pemda sebagai pemberitahuan bahwa si kembar udah punya ‘tempat’ di salah satu SMP. Ga seperti di Indonesia dimana nilai UN (mungkin) jadi penentu nanti bisa nerusin sekolah kemana, disini semua siswa wajib nerusin ke sekolah lanjutan terdekat dari rumah.

 

York, 11 Mei 2017

Di sela-sela pusingnya ngerjain tugas akhir di perpus

(di-copy dari blog ummu shofi)

Advertisements

10 thoughts on “UN-nya SD di Inggris, pengalaman si kembar

  1. Waktu itu blognya sempet off ya? atau lagi di edit? si kembar seneng ya sekolah disana, sukses ya! sini sistemnya juga sante, TKnya beda banget ama di Jerman.

    Like

    • Iya nih mba Lulu hiks…
      Lagi (sok) sibuk jadi ga sempet posting lagi. Alhamdulillah sekarang mau nyoba disiplin buat nulis supaya ga lupa hehehe

      Alhamdulillah si kembar betah sekolah dan tinggal disini mba 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s